Hati adalah Raja bagi tubuh manusia, dan tubuh manusia itu sendiri hanyalah prajurit bagi hati, yang sewaktu-waktu harus siap diperintah oleh sang Raja hati melalui keinginan-keinginan yang mengalir darinya.
Dalam menjalankan tugas-tugas hariannya, seorang Raja biasanya didampingi oleh hulu balang alias penasihat, yang akan memberi masukan-masukan kepada sang Raja agar kebijakan yang ditetapkan sang Raja bermanfaat buat seluruh rakyat.
Begitu juga halnya hati, dia bahkan memiliki dua penasihat; Akal dan Nafsu. Akal bagi hati adalah penasihat resmi, penasihat yang memiliki kekuatan ilmu, yang karenanya akan selalu memberikan nasihat-nasihat yang ilmiyah lagi benar kepada hati. Sementara nafsu adalah penasihat tidak resmi, karena ia tidak memiliki SK khusus dan resmi bahwa ia dihadirkan untuk menjadi penasihat bagi hati. Ia adalah penasihat yang melantik dirinya sendiri, yang dengan kekuatan hawa yang dimilikinya dia berusaha mempengaruhi hati sekaligus menguasainya. Karena itu selalu saja terjadi perselisihan antara dua sosok penasihat hati di atas. Bahkan bantai membantai pun kerap terjadi di antara keduanya.
Kalau begitu suara siapakah yang akan didengar oleh hati, Akal atau Nafsu? Tentu saja siapa diantara keduanya yang lebih lantang suaranya, dialah yang akan didengar hati.
Oleh karena itu perjuangan membebaskan hati dari pengaruh nafsu harus menempuh dua langkah yang harus dilakukan secara berbarengan, yaitu melirihkan suara nafsu dan menguatkan suara akal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar