Selasa, 30 Agustus 2016

Keputusan


aya yakin kamu lebih tahu persoalan yang kamu hadapi, tentu kamu juga bisa membuat keputusan terbaik,  jadi ingat deh dulu aku pernah ikut pelatihan supervisi mungkin bisa diterapkan untuk kasus kamu, sorry ya sok tahu dikit, coba kamu buat daftar konseqwensi negatif dan konseqwensi positif yang akan kamu dapatkan jika kamu ambil keputusan seperti di atas, kemudia coba dihitung mana yang lebih kuat, misalnya konseqwensi negativenya : kamu akan kehilangan pekerjaan (PNS kayaknya ngak mungkin), kamu akan tidak diikutkan pada proyek2 lain pada masa yang akan datang, kepercayaan teman dan atasan akan kemampuan kamu akan berkurang dsb, konseqwensi positivenya : pikiran lebih tenang, waktu untuk keluarga akan lebih banyak

Cerita Seorang Teman

Cerita seorang teman yang memaparkan perjalanan hidupnya yang sempat berada di titik nadir selama beberapa tahun : tidak punya uang, tidak punya pekerjaan tetap, labil, apatis, merasa tercabut dari akarnya, hidup tanpa rencana, tidak fokus dsb, kerja serabutan, pernah bekerja sebagai montir jalanan, menangani beberapa rencana proyek yang gagal dilaksanakan dsb, alhamdulillah sekarang semua sudah berlalu, bahkan dia sendiri sebelumnya tidak pernah membayangkan akan sesukses sekarang ini, "ini semua berkat kemauan keras untuk merubah nasib, tidak neko-neko, hemat dan yang lebih penting lagi selalu berdoa pada Allah SWT", keinginan merubah nasib "tercetus setelah melihat kelucuan anak-anaknya serta dorongan tulus istri tercinta" lanjut teman tsb

Senin, 29 Agustus 2016

Bos

Bos

9 Agustus 2014 pukul 19:13
Harap dicamkan dalam hati "Anda belum menjadi bos jika anda masih terlibat dalam operasional harian usaha anda, bos merupakan orang yang memiliki usaha dan usahanya akan jalan dengan sendirinya bahkan berkembang dengan baik tanpa kehadiran pemiliknya (remote), hal ini terjadi karena anda telah memilki sistem untuk mengendalikan usaha anda tanpa keterlibatan anda langsung, jika belum anda hanyalah salah satu pekerja pada usaha yang kebetulan anda miliki" anda hanya mengerjakan hal-hal remeh, bukan hal-hal besar seperti pengembangan usaha lebih lanjut (inovasi berkelanjutan)


SukaSuka ·

  • Dilihat oleh 14
    Nazifa Anas, Saambatuta Batuta, dan Muhammad Arizonamenyukai ini.


  • Muhammad Arizona Yαº°˚ª˚°ºα lah tin, apalagi masih ngelayanin + Tungguin Kas Kasir. Kalau Anda Ingin Jadi Boss Anda Harus Bikin Sistem Mengendalikan Usaha Anda + Anda Harus Percaya Dengan Karyawan Anda. Kata Salah Satu Ninik Mamak BBG Kita Harus Adil ama Karyawan Kita Ɣªήğ Turut Serta Mengembangkan Usaha Kita Kalau Kita ♏αu Jadi Boss Ɣªήğ Di Hormati & Di Segani ama Karyawan. Kata ϞƔà ℓǻGÏ Adil itu "Lomak Jo Awak, Katuju Jo Urang" bukan ϞƔà lomak jo awak ajo Mentang2 Kita Boss ϞƔà.
    20 April pukul 18:58 · Suka


  • Syafrudin Sabirin Tidak gampang buat sistem, saya sudah pernah mencobanya dan hasilnya masih mengecewakan, penyebabnya mungkin belum terlalu serius, karena usahanya masih kecil dan segala sesuatunya masih bisa dikerjakan sendiri (bersama istri) dan untuk saat ini kami hanya butuh 4 orang karyawan dulu, ada beberapa hal yang mesti kita perhitungkan sebelum mengangkat seorang tangan kanan, dia harus jujur (ini tidak gampang menilainya), mampu dan rajin, keluarga sendiri bukanlah jaminan untuk dijadikan tangan kanan sebagai representaitive sang pemilik usaha "JANGAN SAMPAI SANG TANGAN KANAN MENJADI MUSUH DALAM SELIMUT" Ingat dia manusia pengen juga maju, nah........ ini yang susah menilainya, bisa aja yang terjadi "PERUSAHAAN DALAM PERUSAHAAN"

    Saya rasa untuk para pemula (saya salah satunya) ini sudah cukup bagus20 April pukul 19:16 · Suka


  • Muhammad Arizona Biasa ϞƔà Karyawan suka jd musuh Dalam Selimut. Biasa ϞƔà Ngaak Άϑά Hitung2an Ɣªήğ Jelas Antara Boss ama anak buah ϞƔà. Dan Biasa ϞƔà Boss ϞƔà Belum Bisa Berbuat Adil, Masih Mentingin Lomak Jo Awak @̤̈̊j̅ά̲̣ , Katuju Jo Orang ϞƔà ngaak di pikirin. Kalau Kita ߼õõº˚°˚˚°ºM Bisa Percaya ama orang & selalu curiga ama orang, dia tiϑάќ akan bisa jadi boss tetapi akan terus jadi pekerja dari Usaha ϞƔà Sendiri.
    20 April pukul 19:28 · Suka


  • Syafrudin Sabirin Dalam usaha "prinsip kehati-hatian" merupakan hal yang sangat penting, jangan angap enteng pekerja mandiri, saya sering lihat "mereka yang berpenghasilan puluhan juta perbulan" orangnya kelihatan santai
    20 April pukul 19:41 · Suka


  • Syafrudin Sabirin 7 Things You Should Never Say to Your EmployeesBY Lindsay Broder | April 1, 2014|...Lihat Selengkapnya
    20 April pukul 19:57 · Suka


  • Muhammad Arizona Yαº°˚ª˚°ºα Memang Dalam Usaha Prinsip Kehati-hatian Memang Perlu,, tapi Prinsip Kepercayaan Terhadap Anak buah Juga Di Perlukan. Itu ŜęMuª ήƔą Tergantung Pribadi Masing2. Unsur Mana Ɣªήğ Dia Terapkan. Kalau Boss gw, Dia Ù∂αĥ Hitung ŜęMuª ήƔą, Dia Percayakan ŜęMuª ήƔą ke Kepala Divisi ϞƔà Masing2 Dia Bilang Paling2 Kalau Άϑά Kepala Divisi ϞƔà Ɣªήğ Bersikap Curang, Paling Tinggi Mengurangi Keuntungan saya 10%, Saya Masih Dapat 90% Dari Pada Saya Capek Terlalu Ngawasin, Ɣªήğ penting saya lebih leluasa Dalam Hal Waktu. Dia Hanya Terapin Dalam Pengawasan "Setiap Pengeluaran Kas Divisi, bukti pengeluaran ϞƔà harus di tanda tangani Minimal 2 Orang, Setiap Pemasukan Harus Di transfer ke Rekening Perusahaan". Dia Kelihatan ϞƔà Kayak Pengangguran, Tapi Penghasilan Puluhan Juta Terkadang Bisa Ratusan Juta Per Bulan.
    20 April pukul 20:06 · Suka


  • Syafrudin Sabirin Ya, saya sering lihat orang india yang sudah menjadi importir dan lewat beberapa wawancara tak resmi dari karyawanya, saya dapat menarik kesimpulan, "Pantas saja dia jarang muncul, disamping semua outletnya sudah terpasang CCTV yang dapat dipantau lewat computer atau hp, rupanya kerugian akibat kasus pencurian dapat ditutupi oleh keuntungannya yang sangat besar

    Tiap toko biasanya dijaga oleh 3 atau 4 orang karyawan, tergantung besarnya oulet (bisanya terdiri dari 3 atau lebih kios), terdiri dari beberapa orang pelayan dan seorang kasir atau administrasi dan 1 orang pimpinan, semua transaksi harus melalui sang administrasi dibawah pengawasan pimpinan toko, biasanya tiap jaringan toko di suatu lokasi berdekatan dipimpin oleh seorang manager, misalnya untuk wilayah blok A (terdiri dari 5 outlet) dikelola oleh satu orang manager, begitu juga dengan blok B dsb, sang managerlah yang paling bertangung jawab langsung pada pemilik yang biasanya berkantor di Pluit atau pasar Baru, pemilik cukup memegang beberapa orang manager sebagai orang kepercayaanya.
    Setiap pengambilan barang di gudang harus melalui prosedur baku, Muhammad Arizona tentu lebih berpengalaman tentang hal ini, begitu juga dengan soft ware akutansi yang digunakan. Tiap jabatan sudah memiliki Job Description dan tiap aktivitas bisnis sudah ada Standard Operation Procedure (SOP)21 April pukul 7:39 · Telah disunting · Suka
    dicopy dari status fb

Minggu, 28 Agustus 2016

Siklus Bisnis

Tiap bisnis punya siklus hidup al : Tumbuh, Berkembang dan siklus mati 
1. Pada fase tumbuh, bisnis sangat membutuhkan kreatifitas dan kerja keras dari sang pemilik. 
2. Fase berkembang, ini merupakan saatnya panen, lagi tren atau booming, saatnya mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, gunakan segala potensi keahlian dan uang yang dimiliki untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal, fase ini merupakan saat yang tepat untuk antisipasi jika sewaktu-waktu terjadi penurunan daya serap pasar atau tren pasar turun, hal ini bisa disebabkan bertambahnya pemain pada bisnis ini akibatnya pembeli beralih pada pemain baru tsb. 
Agar kita tidak gigit jari pada tahap selanjutnya, kita harus mulai investasikan sebagian keuntungan pada investasi yang aman, pelan-pelan mengurangi pemakaian uang pada bisnis ini, mengurangi stock bahan baku dan barang jadi pada item-item yang diperkirakan akan mengalami tren turun.
3. Pada fase mati kita mulai bisnis baru lagi atau modifikasi bisnis yang lalu agar masih bisa mengikuti tren pasar, selamat menikmati hasil kerja keras anda

Pengelola Toko

Sekitar tahun 2000an saya pernah mengamati sebuah toko fashion di ITC Ambasador - Kuningan, letaknya sangat strategis di hooke lagi, dilayani oleh beberapa orang karyawati yang cekatan, menurut saya ini merupakan toko yang paling rame dibanding toko-toko yang lain walaupun secara umum pusat perbelanjaan yang baru ini masih sangat sepi pengunjung, ternyata pemiliknya jarang ke toko karena dia masih kerja, cuma hari minggu saja dia ke toko, disamping harganya kompetitive pakaian yang dia jual juga berkwalitas tinggi.

Beberapa tahun kemudian saya ketemu seorang pengelola toko bahan kiloan di blok A Tanah Abang, lokasinya kurang strategis di badan los, orangnya kelihatan santai dan tidak ngoyo, sehari-hari kerjanya ngobrol ke sana-kemari walaupun kadang berhasil juga menjual beberapa kilo bahan, daganganya tidak pernah disiram dengan bahan-bahan yang diminati konsumen, terakhir dia ngaku "dia hanya menjalankan dan dia bukanlah pemiliknya, dia hanya orang gajian" bosnya seorang kameramen salah satu PH terkenal di Jakarta dan masih kerabat jauhnya sedangkan istri sang kameramen adalah seorang pemilik salon yang cukup besar, beberapa hari berikutnya toko sering buka-tutup, terakhir ngak buka-buka lagi, terakhir sang kameramen dan istri datang ke toko guna menjual murah semua bahan dan peralatan yang ada di tokonya dan buru-buru kabur menghindari pengelola yang bisa saja nagih service charge yang nungak selama 5 bulan

Ilustrasi yang sangat kontras bukan.......? semoga kita semua dapat mengambil manfaat dari ilustrasi di atas

Modal Membuka Toko

u apa modal utama membuka toko?Pertama adalah modal keberanian, kepercayaan dan jaringan yang luas. Modal awal adalah keberanian, yaitu tekad untuk sukses dan tidak putus asa jika gagal. Modal kedua adalah kepercayaan yang selalu dijaga, baik terhadap pelanggan ataupun pemasok. Modal ketiga adalah jaringan atau relasi yang luas.Banyak Silungkang dan Minang yang membuka toko di Tanah Abang tanpa modal uang sama sekali. Tempatnya dapat dia meminjam kios kosong kepada keluarganya yang tak terpakai. Barang jualannya didapatkan dari saudaranya yang menitipkan barang dagangannya di kiosnya. Kalau sudah terjual baru dibayar.

Exspansi

Tidak gampang gonta-ganti bisnis, disamping butuh sumber daya yang lebih, medan yang belum dipahami mengakibatkan bisnis kocar-kacir, kokohin dulu akar dan batangnya, kalau sudah cukup kuat baru exspansi, bisa secara vertikal, horizontal ataupun kombinasi, bisa pada bidang yang sama dan saling berhubungan atau yang tidak ada hubungan sama sekali, masing - masing metoda ekspansi tsb mempunyai kelebihan dan kekurangannya, akar maksudnya sumber penghasilan seperti jaringan bisnis yang sudah solid, batang bisa berupa uang atau investasi yang berhasil dikumpulkan oleh akar dan sudah dikeluarkan dari siklus bisnis utama, sebagai tempat sandaran bisnis secara keseluruhan. baik berupa uang cadangan ataupun berupa properti, dengan catatan penarikan uang yang sudah tidak masuk ke siklus bisnis tersebut tidak mempengaruhi jalanya roda bisnis secara keseluruhan, masih berupa cairan atau darah (uang segar)

Melanjutkan Usaha Orang Tua

Generasi pertama biasanya mempunyai daya juang yang lebih, sebagai pionir mereka sadar satu-satunya cara untuk merobah nasib " hanyalah lewat kerja keras dan hidup yang super hemat", mereka berprinsip jika masih bisa dikerjakan sendiri kenapa mesti bayar karyawan yang belum jelas kwalitasnya, kwalitas berarti kecakapan dalam melayani pembeli, kejujuran dan kesetiaan terhadap majikan. Beda dengan anak-anaknya (generasi ke 2 dan ke 3) dikenal sebagai anak atau cucu perantau (Minang) yang sukses, biasanya mempunyai pendidikan yang lebih tinggi dan pergaulan yang lebih luas dibanding generasi sebelumnya. Sudah selayaknya mereka jauh lebih sukses dari pada pendahulu mereka, semuanya sudah mereka punyai, tapi kenyataanya banyak dari mereka sepertinya tidak berkembang, skala usahanya segitu-segitu saja ada kalanya mengalami kebangkrutan, mereka hanya meneruskan usaha yang sudah dirintis oleh orang tua mereka, mereka tidak mengembangkannya, mereka hanya melakukan (persis) apa-apa yang pernah dilakukan oleh orang tua mereka, padahal zaman sudah berobah, cara berbisnis telah berkembang, wajar saja kalah saing dengan perusahaan yang dimiliki non pribumi. Mungkin kita perlu berkaca pada bisnis orang Cina "orang tuanya agen atau sopir bus, anaknya memilik perusahaan oto bus, cucunya punya maskapai pesawat terbang dsb"

Jumat, 26 Agustus 2016

Ketidak Teraturan

Justru ketidak teraturanlah "yang akan merubah nasib seseorang" jika hidup keseharian anda begitu-begitu aja (monoton), pagi berangkat kerja malam pulang ke rumah dan ini anda dilakukan selama bertahun-tahun tanpa ada kejolak, itu tandanya hidup anda tidak akan mengalami peningkatan. Tapi berbesar hatilah (jangan curiga dulu pada pada Sang Khalik) jika hidup anda mengalami gejolak (mengalami kemunduran drastis), tiba-tiba mengalami kejadian yang tidak menyenangkan seperti mengalami PHK, kebakaran atau kebangkrutan dsb. Percayalah Allah sedang menguji dan kebaikan akan mengikuti anda pada masa yang akan datang dan kemajuan yang akan dicapai justru jauh lebih gemilang, tapi jangan lengah "keberhasilan yang anda nikmati sekarang ini juga sebuah ujian dan hasilnya bisa kita lihat pada masa yang akan datang kelak"

Rezeki

Rezeki kita itu saling kait-mengkait, keberhasilan yang kita capai bukanlah seratus persen hasil dari hasil kepitaran dan kerja keras kita, disitu ada andil dari orang tua kita, pasangan kita, anak-anak kita, saudara-saudara kita, tetangga, teman, rekan bisnis, karyawan bahkan orang yang tidak kita kenal sama sekali, lewat mereka Allah mempermudah segala urusan kita, "makanya berikanlah hak-hak mereka sesuai peran mereka, seperti al. : menafkai keluarga sesuai kemampuan, membayar gaji karyawan tepat waktu dengan jumlah yang pantas, membayar zakat dsb"

Lautan Bisnis

Maaf, aku pernah baca tulisan seorang praktisi bisnis kira2 isinya "kalau masuknya setengah-setengah nanti hasilnya juga setengah-setengah" aku tidak menyetujui pendapat sang ahli tapi juga tak membantahnya, semua berpulang pada diri kita pribadi Ada beberapa kemungkinan : 1.kolamnya tidak banyak ikanya, 2. Sudah banyak yang mancing di kolam tsb, 3. ikanya sudah kenyang, maksudnya sudah pada belanjan di mal dsb, 4. Umpanya tidak pas, 5. Atau yang macing yang ngak bisa manfaatin situasi Atau mancingnya di tempat lain aja : bisa di sungai, di danau atau di laut sekalian, he he he hanya sekedar saran, semua berpulang pada si pelakon Pendapat praktisi lainnya : Ukuran kesuksesan bisnis atau karir itu bisa dilihat dalam jangka waktu tiga tahun… Jika dalam tiga tahun, kita berada di suatu bidang, menekuni suatu bisnis, menjalani suatu hal, kok belum mendapatkan pencapaian apa-apa? Segera instrospeksi! jangan-jangan kita berada di tempat yang salah. Jangan-jangan kita menjalani bidang yang salah. Jangan-jangan kita tidak berada dalam passion yang tepat…

Kamis, 25 Agustus 2016

Resiko

Kalau mau jujur, semua pekerjaan mempunyai resiko termasuk karyawan pada perusahaan MNC. tinggal bagaimana mensiasati resiko tsb. Resiko menjadi kayawan : dimurkai atasan, tiba-tiba dipecat, kenaikan gaji tahunan tidak sesuai dengan inflasi (*), dicurangi teman selevel, dirongrong anak buah dsb Resiko menjadi polisi : ditembak penjahat walaupun sudah dibekali pistol dsb Resiko menjadi petani : gagal panen, harga hasil panen anjlok di pasaran, dsb Resiko menjadi pedagang atau pengusaha : bangkrut, kebakaran, kecurian dsb Resiko terbesar bagi seorang wira usaha adalah waktu pertama kali memulainya, untuk itu janganlah terlalu jor-joran waktu baru pertama kali memulai sebuah usaha, kita belum paham slahnya jadi harus pelan-pelan dulu, dengan berjalannya waktu pemahaman dan keterampilan semakin bertambah tentu resiko dapat diperkecil, keuntungan tahunan jangan dijadikan modal semuanya, ambil sebagian sebagai modal cadangan atau untuk investasi yang rendah resiko

Lokasi - Lokasi - Lokasi

Lokasi, lokasi, lokasi Pemilihan lokasi yang tidak sesuai dengan target pasar, maka usaha yang Anda jalankan akan cepat tutup atau bangkrut. contoh: Jika ingin menjual makanan untuk anak sekolah, maka sebaiknya pilih tempat dekat sekolah. Makanan untuk karyawan kantor, pilihlah dekat gedung perkantoran. Pengen buka bengkel motor, pilihlah jalan yang agak rame tapi jangan di pinggir jalan tol. Pengen buka bisnis pakaian jad secara kulakan, pilihlah pasar grosir yang banyak pengunjung dari luar daerah atau luar negri Pengen buka toko cendramata, pilihlah daerah pariwisata Pengen buka bimbingan test, buka bimbingan test dekat sekolah Pengen jadi pemasok suku cadang mesin-mesin industri, buka outlet spare part di daerah industri dsb Catatan : Jika produk/jasa kita bagus, lokasi bisa dinomor duakan dan biaya untuk sewa/beli tempat (strategis) bisa dikurangi

Selasa, 23 Agustus 2016

PKL

Sebagian PKL di Jakarta merupakan para perantau pemula asal Sumatra Barat, atau mereka yang tidak beruntung secara ekonomi, mau dagang di pasar ? disamping tidak ada jaminan akan dikunjungi oleh pembeli, rata-rata harga kios juga tidak sebanding dengan hasil yang akan didapat. Kebijakan pemerintah "yang memihak pada pemodal besar" cukup besar andilnya bagi kematian hampir sebagian besar pasar tradisional yang ada di Jakarta dan kota-kota satelitnya, hanya beberapa pasar tradisional yang bisa bertahan seperti : ps. Kebayoran Lama, ps. Jati Negara, ps. Tanah Abang dan ps. Senen, pasar-pasar lainya bisa dibilang kondisinya sangat mengenaskan, "hidup segan matipun tak mau", seperti ps. Minggu, ps. Manggis, ps. Slipi dsb, sebagian besar tenan dari pasar-pasar tsb mayoritas berasal dari Minangkabau.

Anak Dagang

Anak2 Minang (Silungkang) masa saisuak

"Tinggal di ruko, pulang sekolah bantu ayah di toko".
Anak2 Silungkang masa kini :
"Tinggal di komplek atau di rumah, pulang sekolah main internet atau game".

Sebagian besar anak-anak Silungkang yang umurnya pada usia SD atau SMP atau SMA pada tahun 70 an dan 80 an masih beruntung, karena orang tuanya masih mewajibkan anak-anaknya untuk membantu orang tua dalam berdagang, secara tidak langsung orang tuanya mengajari anak-anak cara berkomunikasi dengan berbagai macam karakter manusia disamping keterampilan dagang tentunya.

Kesemua keterampilan ini sangat dibutuhkan di dunia kerja atau bisnis, bisnis apapun yang mereka geluti, mungkin akan sulit untuk menjadi maju jika mereka tidak dibekali keterampilan komunikasi.
Mungkin ada yang berpikir buat apa mendidik seorang anak cara berdagang, toh dia tidak berminat dengan dunia perdagangan, ini pikiran yang salah, " bisnis merupakan keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh setiap manusia, setiap memenuhi kebutuhan dasarnya manusia pasti melakukan kegiatan bisnis", kita membeli kebutuhan sehari-hari di mini market berarti kita telah melakukan kegiatan bisnis, orang yang mengerti bisnis pastilah akan membanding-bandingkan beberapa hal, apakah harganya lebih murah? apakah kwalitasnya bagus?

Kita harus menanamkan pada anak2 kita "yang terbaik bagi mereka adalah menjadi bos bagi diri mereka sendiri, bekerja bukanlah pekerjaan yang harus mereka lakukan seumur hidup", suatu saat mereka pasti pensiun atau jika dapat sial " kemungkinan di PHK bisa saja mereka alami, untuk itu mereka mesti diajari seluk-beluk dunia bisnis sejak mereka kecil. Keterampilan ini tidak saja diajarkan pada anak2 laki2, anak perempuan juga mesti diajari, kita tidak tahu apa uang akan terjadi pada waktu mereka dewasa, jika mereka memilki keterampilan dagang tentu mereka tidak akan terlalu panik jika suatu saat ada apa-apa dengan suami mereka kelak.

Senin, 22 Agustus 2016

Toko - Rumah

Nasehat dari niniak mamak Batu Bagantuang untuk anak-kamanakan Batu Bagantuang : Jangan gadaikan sesuatu yang sudah kita miliki dengan susah payah hanya untuk mengapai sesuatu yang masih tanda tanya.
Janganlah menggadaikan rumah hanya sekedar untuk membuka usaha atau mengontrak toko (yang mahal), rumah merupakan tempat kita memulai sesuatu, tempat kita mendidik anak-anak. Tanpa rumah kehidupan keluarga dan anak-anak akan terganggu, jangan rusak kebahagiaan mereka, hanya demi sebuah angan-angan.
Tidak punya toko / usaha tapi masih punya rumah jauh lebih baik dari pada punya toko / usaha tapi tidak punya rumah, kita cuma tinggal memikirkan cara mencari nafkah buat keluarga, toh masih banyak cara lain untuk mencari nafkah, kita bisa jadi karyawan orang atau kapan perlu dagang kaki lima yang penting ada hasilnya (halal).
Sebuah toko / usaha haruslah bisa menafkai kita dan keluarga kita, bukan sebaliknya kita yang menafkai toko / usaha, buat apa punya toko / usaha jika hanya menghabiskan harta yang susah payah kita dapatkan.
Motto "Sebuah toko / usaha seharusnya bisa menghasilkan beberapa rumah, bukan sebaliknya menggadaikan rumah hanya untuk sekedar mengapai angan-angan yang tak mungkin atau sulit terwujud"

Fenomena PKL

Fenomena kaki lima di Jakarta merupakan salah satu bukti kesalahan pemerintah dalam mensejahterakan rakyatnya, pemerintah gagal menyediakan pekerjaan yang layak bagi rakyatnya, tidak ada satu orangpun yang bercita-cita pengen jadi PKL, hujan kehujanan, panas kepanasan, diusir kesana-kemari, dikompas oleh banyak preman dan oknum, kalau mau jujur mereka juga mau kerja ditempat yang enak plus duit yang banyak PKL merupakan kran pengaman dari kerusuhan sosial akibat ketimpangan ekonomi (kecemburuan sosial), mending mereka kerja sebagai PKL dari pada mereka kerja sebagai rampok, penodong, koruptor ataupun copet, jangan hina mereka, bicarakan secara baik2, mereka juga warga negara Republik Indonesia yang berhak terhadap kehidupan yang layak, jauh dari kemiskinan dan rasa lapar. Mereka punya anak bini yang mesti makan, sekolah, mereka harus membiayai kehidupan mereka, jangan halangi mereka mencari resky di negri ini, apa mereka mesti pergi ke Malaysia untuk mencari kehidupan?

PKL Zaman Gus Dur



Pada masa awal reformasi banyak terjadi PHK, Gus Dur memerintahkan Sekretariat Negara untuk menjadikan lokasi komplek mentri sebagai lokasi pedagang kaki lima, hal ini dilakukan sebagai salah satu terapi darurat untuk mengatasi masalah pengganguran di ibu kota, jalan-jalan depan komplek mentri Kuningan dipergunakan sebagai lokasi pedagang kaki lima, komplek mentri benar-benar menjadi rumah rakyat, pasukan pengawal perumahan komplek mentri sangat bersahabat pada pedagang dan pengunjung, tidak terlihat ketakutan akan keselamatan para mentrinya, sampai-sampai kamar mandi mentri digunakan khalayak sebagai halnya tempat permandian/wc umum, "kapan lagi bisa mandi di rumah mentri, pikir para pedagang"
Ini baru berakhir ketika salah satu pejabat Sekretariat negara zaman Presiden Megawati mengeluh "masak komplek mentri jadi pasar dan banyak tamu para mentri termasuk dubes mesti melewati barisan lapak para pedagang jika ingin berkunjung ke rumah dinas para mentri"

Minggu, 21 Agustus 2016

Sekejap Kampak Berubah Jadi Jarum

Sudah lama aku punya impian seperti ini, tapi diurungkan dulu karena berbagai hal, setelah berjuang kurang-lebih 6 - 7 tahun (setelah pertemuan kita yang terdahulu), aku mencoba bangkit lagi (sebetulnya waktu itu tidak bangkrut2 amat karena alhamdulillah masih punya rumah), cuma waktu itu aku kerja serabutan, sempat buka bengkel motor, jualan dari sekolah2 dan kantor2, alhamdulillah sekarang aku baru merasa sekaranglah saatnya untuk coba bisnis lain, hitung2 menyebar resiko, karena Tanah Abang resikonya terlalu tinggi, dalam sekejap "kampak bisa berubah jadi jarum"

Perempuan Minangkabau

Perempuan Minang itu rata-rata cantik, rajin, pintar masak, berani bahkan cendrung galak jika dibanding perempuan asal pulau Jawa dan kegalakannya menyamai perempuan Batak he he kalau laki-lakinya cendrung ngalah, dalam hal pengelolaan harta pusaka atau harta keluarga, emang ada yang nyimpang "harta pusaka dikuasai sendiri", tapi khasus ini tidaklah banyak dibanding yang masih ngikuti aturan adat yang baku. Sebelum Kartini dengan bantuan beberapa Belanda mencanangkan "emansipasi pria-wanita" perempuan Minang sudah terbiasa melakukan pekerjaan pria seperti sebagai pebisnis, pengajar atau sebagai tenaga kesehatan dsb. Makanya perempuan Minang tidak akan bingung jika terjadi apa-apa dengan suaminya seperti sakit yang tak memungkinkan mencari nafkah lagi, "dengan tegarnya mereka akan ambil alih untuk menjaga perekonomian keluarganya" kita bisa lihat "mayoritas pedagang di pasar-pasar seperti di Bukit Tinggi merupakan perempuan", dan mereka juga pernah tercatat "sejarah" sebagai penyumbang untuk membeli pesawat tempur pertama RI, emas dikumpulkan dari ibu-ibu ini kemudian ditukar dengan pesawat.

Selasa, 16 Agustus 2016

Penyebab Kebangkrutan

Secara ringkas dapat disimpulkan beberapa hal penyebab kebangkrutan :


1. Besar pasak dari tiang, gaya hidup tidak bisa ditopang oleh penghasilan, utang numpuk sana-sini, akhirnya gali lubang tutup lubang.
2. Kurang selektif dalam memberi kredit atau piutang, akibatnya kredit macet, banyak piutang tidak tertagih.
3. Mismanagement, banyak terjadi kebocoran, karyawan tidak jujur dan overhead terlalu tinggi.
4. Terlambat mengantisipasi "market tren", akibatnya penjualan terganggu, stock barang jadi numpuk karena tidak terjual, terpaksa dijual dibawah ongkos produksi.
5. Salah dalam memilih badan pendanaan, pakai KTA atau pinjam sama rentenir, akibatnya bunga pinjaman terlalu tinggi.
6. Kesulitan dalam menemukan suplier yang dapat diandalkan baik dari segi quality, harga maupun keringanan dalam pembayaran.
7. Kurang menjaga kesehatan pribadi dan keluarga akibatnya perhatian terhadap usaha terganggu.
8. Tidak menyiapkan dana segar untuk antisipasi pada masa-masa sulit.
9. Tidak menambah pengetahuan, terutama yang berhubungan dengan bisninya.
10. Salah dalam berinvestasi ,mis : terlanjur membeli properti di daerah yang tadinya akan berkembang dengan pesat, rupanya hanya isapan jempol, dikadalin pengembang
11. Mengalami musibah, misalnya kebakaran dsb, dan kebetulan lupa mengansuransikannya
12. Lupa menyiapkan pengganti sebagai penerus usahanya.
13. Kurang mensyukuri nikmat Nya.

Ada beberapa hal biasanya yang akan dihadapi oleh seorang pengusaha atau pedagang setelah mengalami kebangkrutan , terpuruk hidupnya, hampir bercerai dengan istrinya, stres, depresi, dan masih banyak lagi hal negatif terjadi pada dirinya. (Maaf, saya tidak bermaksud memberitakan hal negatif). Hal tersebut lebih disebabkan oleh kebangkrutan dalam bisnis, dan sebagian ada yang kapok memulai bisnis kembali, dan mencoba melamar kerja kembali. MasyaAllah.

Selain kepintaran dalam hal menjual, marketing, pengelolaan keuangan, ada beberapa hal penting lain yang harus dihindari oleh seorang pedagang atau pengusaha agar usahanya selamat atau bahkan berkembang, antara lain :
1. Judi dan semacamnya
2. Minum-minuman keras dan narkoba
3. Perempuan : main perempuan, bini muda, wanita simpanan, pria simpanan (jika pengusahanya perempuan)

Harga

Harga juga merupakan elemen keunggulan bersaing dari sebuah produk yang bisa kita gunakan untuk menarik perhatian pasar. Banyak orang menganggap siapa yang harga produknya paling murah akan lebih diminati pasar. Tentu saja hal ini tidak sepenuhnya benar. Memang, pasar di kelas menengah ke bawah lebih mengutamakan kuantitas. Dan harga rendah memang akan menjadi faktor penentu minat pasar di level ini. Sementara di kelas menengah, harga menunjukkan kualitas dari produk. Sebagus apapun produknya, kalau harga murah dianggap tidak wajar. Maka produk tersebut juga tidak akan diminati. Sementara di pasar kelas atas, harga yang tinggi justru menjadi penanda bahwa produk yang ditawarkan memang berkualitas dan sangat recomended banget untuk kelas premium yang sangat terbatas peminatnya. Boleh percaya boleh tidak .. Banyak produk yang tadinya dihargai murah tidak laku.. tetapi begitu harganya dinaikkan 4 kali lipat dari harga semula malah diserbu oleh pasar.. Walaupun ongkos produksinya masih tetap sama..

Kamis, 11 Agustus 2016

Karya Vira Waktu SMA

Tari Bali



Karya Vira Waktu SMA


Karya Putriku Vira

digambar waktu sd




Laba

Menentukan harga sebuah produk merupakan hal yang sangat krusial bagi seorang wirausahawan, jika terlalu tinggi akan mengakibatkan larinya pelangan potensial tapi jika terlalu rendah usahanya sudah bisa dipastikan akan mengalami lesu darah, bisa-bisa bangkrut. Ada beberapa hal yang mesti dipertimbangkan : pertama ongkos produksi misalnya harga bahan baku, ongkos pekerja, biaya transportasi, biaya gudang, biaya promosi, biaya sewa outlet, kemudian yang mesti dipertimbangkan pula bunga bank dan pajak'
pada dasarnya ada 3 type wirausahawan didalam menentukan harga sebuah produk: pertama type yang hanya mementingkan putaran, kedua type pencari laba dan yang ketiga type kombinasi. Type pertama baru bisa kita lakukan jika kita mempunyai banyak produk atau dengan kata lain cara ini baru bisa kita jalankan jika modal kita kuat, biasanya pedagang Thionghua menganut type ini. Jika kita tidak kuat dalam hal permodalan lakukanlah type kedua dengan syarat produk yang kita hasilkan bukanlah produk yang bermutu rendah, produk kita harus unggul dalam hal design dan quality. Tapi metode yang terbaik adalah kombinasi kedua metode tadi, disamping kita bisa menarik pelangan sebanyak-banyaknya kita juga bisa mendapat keuntungan yang memadai sehingga usaha kita dapat terhindar dari lesu darah.
Kebijkan harga akan menentukan demand, persaingan semakin ketat dan perubahan pasar semakin signifikan perlu adanya kerja yang seoptimal mugkin untuk menentukan nilai yang relevan atas niali/harga suatu produk, karena kesalahan yang fatal jika kebijakan harga tidak mengikuti perkembangan dan pesaiang( kompetitor), ingat membangun bisnis awal lebih sulit dari pada membina yang sudah survive....

Rabu, 10 Agustus 2016

Wira Usaha (entropreneur)

Indonesia masih kekurangan entropreneur, jumlahnya hanya sekitar 450 ribu atau kurang lebih 0.18% dari total populasi penduduk Indonesia, padahal negara tetangga Singapura jumlah entropreneurnya mencapai 7% dari total populasinya. Fakta-fakta tersebut diungkap oleh bapak Ciputra, pengusaha sukses pemilik kelompok Ciputra grup. Jumlah yang sangat sedikit, rupanya kawan-kawan kita yang tidak beruntung, yang masih berupa jutaan UKM dan terbukti tangguh menjadi pilar ekonomi Indonesia di saat krisis 98, tidak masuk dalam kreteria entropreneur pak Ci. Bagaimana dengan PKL dan, bukankah mereka pengusaha kecil yang tahan banting? Mereka dapat menghidupi diri mereka sendiri, bahkan dapat mempekerjakan beberapa orang pegawai. Pak Ci juga lupa, salah satu konglomerat di jaman orde baru pada awalnya juga merupakan pedagang kecil di tanah jawa. Mereka para penggusaha kecil jika diberi kesempatan dan tidak dimatikan mata pencahariannya, juga bisa menjadi penggusaha sukses kelak.

Pada dasarnya kita merupakan bangsa pedagang, akibat penjajahan jiwa entropreneur hilang, bahkan sengaja dihilangkan oleh penjajah, dengan tujuan untuk menggusai Indonesia secara mutlak. Selama tujuh generasi bangsa ini dibodoh-bodohi, tidak dipintarkan, tidak diberi kesempatan dan hak untuk merdeka. Ini sangat mempengaruhi mental, logika berpikir orang Indonesia. Kemandirian bangsa hilang. Kapal-kapal dagang yang dimiliki saudagar pribumi dilarang berlayar, dimana sebelum masa penjajahan lautan disekitar Nusantara dipenuhi oleh kapal-kapal saudagar Nusantara. Akibat dari hambatan yang dilakukan secara sistematif dan masive tersebut, sedikit-demisedikit jiwa Entropreneur hilang dari jiwa penduduk Nusantara, mereka diarahkan untuk menjadi petani kecil, nelayan kecil atau pedagang keci yang sulit berkembang, hanya sekedar untuk bertahan hidup, dan adakalanya tidak bisa untuk hidup normal sesuai dengan standar hidup pada jamannya. Anak-anak muda yang kebetulan dapat bersekolah, biasanya dari kalangan priyayi, hanya bisa bercita-cita menjadi pegawai penjajah. Mereka merasa lebih dari saudara-saudara mereka yang tidak beruntung karena tidak bisa sekolah, sehingga terjadi jarak antara priyayi dengan warga biasa.

Hal tersebut diatas merupakan salah satu alasan kenapa bangsa Indonesia tidak maju dan masih terjebak dalam mental inlander sebagai bangsa yang terjajah, masih minder, rendah diri, dan inferior,akibatnya tidak punya keinginan untuk maju. Mental tersebut diperparah lagi semasa pemerintahan Orde Baru, dimana kaum pribumi tidak diberi kemudahan dalam berbisnis, kesempatan berbisnis hanya diberikan pada WN keturunan atau anak, istri dan ponakan para pejabat. Mereka hanya berperan sebagai makelar proyek, yang nantinya akan dikerjakan oleh pengusaha turunan dan hasilnya bisa diduga.

Mengapa orang Tionghoa maju dan entrepreneur semua? Karena mereka adalah bangsa yang tidak pernah dijajah seperti Indonesia. Mereka tidak merasakan tekanan untuk belajar dan melakukan apa saja buat bangsanya. ltulah pangkal mula, mengapa anak-anak muda Indonesia lebih memilih menjadi PNS ketimbang menjadi pengusaha. Bangsa China, menjadi pegawai itu dianggap hina. Karena itu akan hidup miskin seumur hidup. Kalau ditanya bekerja di mana? Karena itu, hampir tidak ada orang Tinghoa menjadi PNS.

Hasil riset Gallup tahun 1997, bahwa 7 dari 10 pelajar SMA di AS itu memilih menjadi entroprener dan memula bisnisnya, daripada menjadi karyawan atau pegawai. Coba bandingkan apa yang terjadi di Padang, Sumatera Barat. Kota Minang yang dikenal perantau dan sukses membuat rumah makan padang di mana-mana. Sukses berentropreneur, sukses menciptakan peluang kerja dan bisa survive di hampir seluruh penjuru negeri. Namun, sekarang semua sudah berubah. Anak-anak muda Padang sekarang bermimpi menjadi pegawai negeri, dari pada menjadi perantau dan membuka rumah makan Padang. Angka statistiknya persis dengan di AS namun kebalikannya, 7 dari 10 anak Padang ingin menjadi PNS. Hanya 3 yang masih ingin berwirausaha.

Ada paradigma yang keliru. Selama ini, hampir semua orang berasumsi, bahwa persoalan utama pengembangan usaha kecil adalah ketersediaan modal. Karena itu di mana-mana, orang bicara modal dan ketersediaan Kredit Usaha Kecil (KUK), termasuk distribusinya seluas mungkin. Celakanya, pandangan ini juga terjadi di kalangan pemerintah dan masyarakat luas. Padahal, masalah pengembangan usaha kecil bukan cuma persoalan modal. Dengan ilmu entropreneur, modal itu selalu bisa diatasi. Entropreneur adalah disiplin ilmu yang bisa dipelajari dan harus dipelajari sebelum memulainya. Jadi, Pendidikan dan pelatihan entropreneurship adalah kunci utamanya. Selanjutnya, baru pembangunan Eco-system dan budaya serta implementasi lapangan, seperti ketersediaan KUK itu.

Ciputra mengatakan, ada fakta yang ini harus menjadi bahan kajian Bappenas. Kredit macet Unit Usaha Kecil Menengah (UMKM), yang bernilai di bawah Rp.5 M mencapai Rp.17,9 Triliun. Itu melibatkan sekitar 1,04 juta usaha kecil. Mengapa? Mereka belum diajari entrepreneur sudah dikucurkan modal usaha. Tak perlu cari siapa yang salah, karena itu sudah terjadi. Ke depan sebaiknya seperti apa. Pemerintah harus belajar dari kegagalan. Dulu pola anak angkat bapak angkat, juga sama. Gagal. Lalu sekarang dikembangkan dengan UMKM, kalau mau jujur, sebenarnya juga menuju ke kegagalan.

Yang paling benar adalah, dididik dulu ilmu entropreneur sejak TK, SD, SMP, SMA, sampai Universitas. Siapkan 1 persen dari APBN, dari Rp.1.000 Triliun, alokasikan untuk Training of Trainers (TOT). Jadi setahun punya Rp.10 triliun untuk program pelatihan. Diisi dulu dengan ilmu entropreneur, jangan belum paham ilmunya sudah digelontor modal usaha. Ciputra mengibaratkan, seorang belum mengenakan kaus sudah dipasangi sepatu bola dan main 2x45 menit. Ya, pasti lecet-lecet semua. Pendidikan pun harus benar, tidak bisa hanya sekedar pelatihan 3-7 hari atau seminggu, atau sebulan, terus diterjunkan dalam bisnis yang sangat keras. Pasti mereka akan kalah bersaing dan gulung tikar. Pendidikan yang betul, harus melalui proses yang benar.

Ilmu entropreneur tidak hanya sekedar diberi kuliah pagi sore. Tetapi harus diimbangi dengan praktik. Mereka juga harus diajar oleh orang-orang yang sudah punya pengalaman berbisnis. Dikombinasi antara teori dan praktik. Seperti anak belajar berenang. Dia harus memahami teori, garis-garis besarnya, lalu harus ikut "basah" menceburkan diri di kolam. Tidak cukup diberi teori, terus suruh loncat di kolam sendiri , pasti akan tenggelam. Sama juga dengan belajar sepeda roda dua. Lebih banyak harus dipraktikkan daripada teori-teori. Jadi pelatihan itu tujuannya to be entropreneur. Bukan sekedar to know entropreneurship. Ini ilmu, jadi harus pula dipelajari seperti halnya sebuah ilmu di bangku kuliah, bisa 3-4 tahun lamanya.

Sudah tiga tahun Ciputra aktif mengampanyekan entropreneur. Jika sebelumnya Indonesia berada di Abad Kebangkitan Bangsa, dengan Revolusi I bidang politik, maka saat ini ada Revolusi Entropreneur. Sekarang inilah saatnya Indonesia bangkit dengan entropreneur. Mengapa RRC cepat bangkit dari krisis? Sekitar 200 tahun atau dua abad silam, RRC itu sudah menguasai 34 persen dari GNP dunia. Di Indonesia, 200 tahun yang lalu, Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Cut Nyak Dien dsb ditangkap oleh Belanda, dan 50 persen pemuda-pemuda hebatnya tewas dibunuh Belanda. Setelah itu, Belanda menjajah negeri ini dengan eksploitasi sumber daya alam, dan memangkas akses-akses menuju pemuda-pemuda pintar.

Jakarta, 

Kamis, 08 April 2010

Kereta Api Uap

Kereta Api Uap (kenagan masa kecil)
di kejahuan sepanjang rel yang melengkung dibalik bukit asap hitam terlihat
Pagi yang indah dihiasi bunyi detakan peralatan tenun klutak klutak
sayup-sayup terdengar tut tut pletok pletok suara ayam tetangga diiringi guk guk suara anjing di kejahuan Tak lama kemudian
pelan-pelan si hitam meluncur di hiasi asap hitam bercampur uap putih tut tut, klutak kluta klutak