Marga atau Suku merupakan indentitas suatu etnis, disamping beberapa etnis yang ada di pulau Sumatra, Papua, Maluku dan Sulawesi hampir sebagian besar etnis-etnis yang ada di Inonesia tidak mencantumkan nama marganya, ini bisa tidak diangab perlu seperti etnis Minang atau memang etnis tsb tidak punya marga seperti etnis Jawa, Sunda, Melayu, Aceh dsb, di pulau Sumatra hanya etnis Batak dan Minanglah yang punya marga atau suku, cuma bedanya : pada etnis Batak marga harus dicantumkan di belakang nama, Minang tidak, pada etnis Batak marga diturunkan dari bapak ke anak (patriakat) Minang tidak, pada etnis Minang suku diturunkan dari mamak atau saudara laki-laki si ibu (matriakat) dan yang lebih tak kalah menariknya lagi etnis Batak sangat terikat dengan marganya, sedangkan Minang tidak terlalu, etnis Minang lebih terikat pada kampungnya, ini dapat digambarkan dengan banyaknya lagu-lagu melankolis yang bertemakan "kampung", salah satunya "kampuang den jauah di mato". Suku atau marga dapat mengambarkan daerah asal atau orientasi politik atau kebanyakan pekerjaan atau agama nenek moyang suku tsb, misal suku Malayu di Minangkabau bisa jadi nenek moyang mereka berasal dari Melayu Jambi atau Riau , Sumatra Barat dikelilingi oleh propinsi-propinsi yang penduduknya mayoritas dari etnis Melayu, malah ada yang mengatakan "orang Minang itu orang Melayu yang memisahkan diri dari induknya Melayu" atau sebaliknya, tapi yang pasti pada ekspedisi Pamelayu I etnis Minangkabau belumlah dikenal, raja Singosari justru menemui raja Melayu Dharmas Raya (sekarang dalah satu kabupaten di pedalaman Sumbar), ada juga yang mengatakan Minangkabau itu berasal dari Minanga yang terletak diantara dua hulu sungai di kabupaten Kampar Riau (Muara Takus) sekarang ini, Berdasarkan Prasasti Kedukan Bukit, pada tahun 682 Dapunta Hyang bertolak dari Kerajaan Minanga dengan membawa 20.000 tentara kearah selatan lalu mendirikan Kerajaan Sriwijaya. Dengan demikian pusat kerajaan berpindah ke wilayah muara sungai Musi atau Palembang sekarang. Walaupun sama-sama berasal dari suku pengembara dari India atau Asia Tengah, dan hidup di pulau yang sama, tapi secara karacter kedua etnis ini sangatlah berbeda, mungkin karena etnis Minang lebih banyak dipengaruhi oleh budaya Melayu. Ada beberapa marga di Sumbar dan Batak yang mempunyai nama yang sama, kalau ditelusuri ternyata mereka masih betkerabat seperti suku Tanjung atau Panai. Pasca perang Padri ada beberapa daerah Minang yang tidak mau lagi mengunakan garis keturunan matriakat seperti beberapa daerah di Riau, Rokan, Rawo dsb. Walau Rawo ini sampai sekarang masih masuk propinsi Sumbar, pasca perang kebanyakan dari mereka berhijrah ke Semenanjung Malaya, ada puluhan ribu turunan mereka di Malaysia
Bersambung
Minggu, 26 Maret 2017
Kelilit Hutang
Nabi besar kita Muhammad SAW pernah bersabda hal betapa ketakutan dan terhinanya kondisi orang-orang yang terlilit hutang, kalau tidak perlu-perlu amat hindarilah hutang, lebih-lebih hutang berbungga dan disertai dengan syarat-syarat yang memberatkan kehidupan kita dan kehidupan anak-cucu kita nantinya. "Siang ketakutan dan malam terhinakan, makan tak enak, tidurpun tak nyenyak". Kondisi negara yang terlilit hutang ya...kira-kira mirip kepala keluarga atau suami yang terlilit hutang, akan ada letupan-letupan di dalam kehidupan keluarga tsb, istri akan menyalahkan sang suami kenapa mesti berhutang sama si anu? Kenapa tidak lebih giat bekerja agar hutang tsb cepat terlunasi, kondisi anak-anak mereka tak jauh berbeda dengan kondisi orang tuannya "mereka tertekan, malu dan prustrasi", bisa-bisa anak gadisnya pun akan dimintai untuk diperistri si pemberi hutang. Emang benar pembangunan butuh biaya dan sumber dana yang besar dan gampang hanyalah lewat hutang, Amerika aja negara kaya dan besar hutangnya malah bejibun. Kita tidak bisa menyamain negara kita dengan Amerika, Amerika negara kuat dan jagoan, dengan sedikit gertakan Saudi atau Jepang akan segera melunak, perlakuan ini bisa saja dilakukan Amerika ketika merasa tertekan waktu kedua negara kriditor ini mencoba mendesak Amerika agar segera melunasi hutang-hutangnya, sedikit provokasi pada Korea Utara akan membuat Jepang mengemis perlindungan meliter pada Amerika, dengan ancaman kekacauan di Saudi akan membuat Saudi menunda tuntutannya. Sementara Indonesia tidak punya kekuatan untuk nego dengan China, malah China lah yang akan selalu mengertak Indonesia. Jika kita bersabar sedikit aja, tentu biaya tsb bisa negara kumpulkan tanpa berutang kesana-sini, bermodalkan sumber daya alam yang melimpah dan jumlah penduduk yang banyak, yakinlah kita akan bisa mandiri, membangun dengan uang sendiri
Selasa, 14 Maret 2017
Panggung Sandiwara
Demokrasi itu hanyalah ilusi, fotomorgana, yang memanfaatkan keiklasan dan kepolosan rakyat banyak, rakyat hanya dimanfatkan untuk memperoleh dukungan politik saat pemilu setelah itu cendrung dilupakan, persis sama dengan para calon selebritis yang memanfaatkan dukungan para penonton di acara-acara kuis atau acara para calon bintang yang diadakan oleh TV - TV. Trias Politika hanyalah jargon tanpa makna, yang berkuasa bukanlah legislative, yudikative ataupun eksekutive apalagi rakyat jelata, kenyataanya yamg berkuasa adalah koloberasi antara ketua - ketua partai dan para pemilik modal atau konglomerate, saling sandra, sandiwara ancam - mengancam, jebak - menjebak merupakan hal yang biasa, ini mereka lakukan hanya sekedar untuk menaikan posisi tawar, sepertimya kekuasaan pemilik modal takkan pernah berakhir walaupun rezim rekanannya tumbang atau digantikan oleh para penguasa lainnya, baik lewat pemilu yang sangat demokratis ataupun lewat cara lain, reformasi maupun revolusi sekalipun. "Rakyat tetaplah rakyat yang selalu ikhlas dan pasrah"
Langganan:
Postingan (Atom)
