Rabu, 10 Agustus 2016

Wira Usaha (entropreneur)

Indonesia masih kekurangan entropreneur, jumlahnya hanya sekitar 450 ribu atau kurang lebih 0.18% dari total populasi penduduk Indonesia, padahal negara tetangga Singapura jumlah entropreneurnya mencapai 7% dari total populasinya. Fakta-fakta tersebut diungkap oleh bapak Ciputra, pengusaha sukses pemilik kelompok Ciputra grup. Jumlah yang sangat sedikit, rupanya kawan-kawan kita yang tidak beruntung, yang masih berupa jutaan UKM dan terbukti tangguh menjadi pilar ekonomi Indonesia di saat krisis 98, tidak masuk dalam kreteria entropreneur pak Ci. Bagaimana dengan PKL dan, bukankah mereka pengusaha kecil yang tahan banting? Mereka dapat menghidupi diri mereka sendiri, bahkan dapat mempekerjakan beberapa orang pegawai. Pak Ci juga lupa, salah satu konglomerat di jaman orde baru pada awalnya juga merupakan pedagang kecil di tanah jawa. Mereka para penggusaha kecil jika diberi kesempatan dan tidak dimatikan mata pencahariannya, juga bisa menjadi penggusaha sukses kelak.

Pada dasarnya kita merupakan bangsa pedagang, akibat penjajahan jiwa entropreneur hilang, bahkan sengaja dihilangkan oleh penjajah, dengan tujuan untuk menggusai Indonesia secara mutlak. Selama tujuh generasi bangsa ini dibodoh-bodohi, tidak dipintarkan, tidak diberi kesempatan dan hak untuk merdeka. Ini sangat mempengaruhi mental, logika berpikir orang Indonesia. Kemandirian bangsa hilang. Kapal-kapal dagang yang dimiliki saudagar pribumi dilarang berlayar, dimana sebelum masa penjajahan lautan disekitar Nusantara dipenuhi oleh kapal-kapal saudagar Nusantara. Akibat dari hambatan yang dilakukan secara sistematif dan masive tersebut, sedikit-demisedikit jiwa Entropreneur hilang dari jiwa penduduk Nusantara, mereka diarahkan untuk menjadi petani kecil, nelayan kecil atau pedagang keci yang sulit berkembang, hanya sekedar untuk bertahan hidup, dan adakalanya tidak bisa untuk hidup normal sesuai dengan standar hidup pada jamannya. Anak-anak muda yang kebetulan dapat bersekolah, biasanya dari kalangan priyayi, hanya bisa bercita-cita menjadi pegawai penjajah. Mereka merasa lebih dari saudara-saudara mereka yang tidak beruntung karena tidak bisa sekolah, sehingga terjadi jarak antara priyayi dengan warga biasa.

Hal tersebut diatas merupakan salah satu alasan kenapa bangsa Indonesia tidak maju dan masih terjebak dalam mental inlander sebagai bangsa yang terjajah, masih minder, rendah diri, dan inferior,akibatnya tidak punya keinginan untuk maju. Mental tersebut diperparah lagi semasa pemerintahan Orde Baru, dimana kaum pribumi tidak diberi kemudahan dalam berbisnis, kesempatan berbisnis hanya diberikan pada WN keturunan atau anak, istri dan ponakan para pejabat. Mereka hanya berperan sebagai makelar proyek, yang nantinya akan dikerjakan oleh pengusaha turunan dan hasilnya bisa diduga.

Mengapa orang Tionghoa maju dan entrepreneur semua? Karena mereka adalah bangsa yang tidak pernah dijajah seperti Indonesia. Mereka tidak merasakan tekanan untuk belajar dan melakukan apa saja buat bangsanya. ltulah pangkal mula, mengapa anak-anak muda Indonesia lebih memilih menjadi PNS ketimbang menjadi pengusaha. Bangsa China, menjadi pegawai itu dianggap hina. Karena itu akan hidup miskin seumur hidup. Kalau ditanya bekerja di mana? Karena itu, hampir tidak ada orang Tinghoa menjadi PNS.

Hasil riset Gallup tahun 1997, bahwa 7 dari 10 pelajar SMA di AS itu memilih menjadi entroprener dan memula bisnisnya, daripada menjadi karyawan atau pegawai. Coba bandingkan apa yang terjadi di Padang, Sumatera Barat. Kota Minang yang dikenal perantau dan sukses membuat rumah makan padang di mana-mana. Sukses berentropreneur, sukses menciptakan peluang kerja dan bisa survive di hampir seluruh penjuru negeri. Namun, sekarang semua sudah berubah. Anak-anak muda Padang sekarang bermimpi menjadi pegawai negeri, dari pada menjadi perantau dan membuka rumah makan Padang. Angka statistiknya persis dengan di AS namun kebalikannya, 7 dari 10 anak Padang ingin menjadi PNS. Hanya 3 yang masih ingin berwirausaha.

Ada paradigma yang keliru. Selama ini, hampir semua orang berasumsi, bahwa persoalan utama pengembangan usaha kecil adalah ketersediaan modal. Karena itu di mana-mana, orang bicara modal dan ketersediaan Kredit Usaha Kecil (KUK), termasuk distribusinya seluas mungkin. Celakanya, pandangan ini juga terjadi di kalangan pemerintah dan masyarakat luas. Padahal, masalah pengembangan usaha kecil bukan cuma persoalan modal. Dengan ilmu entropreneur, modal itu selalu bisa diatasi. Entropreneur adalah disiplin ilmu yang bisa dipelajari dan harus dipelajari sebelum memulainya. Jadi, Pendidikan dan pelatihan entropreneurship adalah kunci utamanya. Selanjutnya, baru pembangunan Eco-system dan budaya serta implementasi lapangan, seperti ketersediaan KUK itu.

Ciputra mengatakan, ada fakta yang ini harus menjadi bahan kajian Bappenas. Kredit macet Unit Usaha Kecil Menengah (UMKM), yang bernilai di bawah Rp.5 M mencapai Rp.17,9 Triliun. Itu melibatkan sekitar 1,04 juta usaha kecil. Mengapa? Mereka belum diajari entrepreneur sudah dikucurkan modal usaha. Tak perlu cari siapa yang salah, karena itu sudah terjadi. Ke depan sebaiknya seperti apa. Pemerintah harus belajar dari kegagalan. Dulu pola anak angkat bapak angkat, juga sama. Gagal. Lalu sekarang dikembangkan dengan UMKM, kalau mau jujur, sebenarnya juga menuju ke kegagalan.

Yang paling benar adalah, dididik dulu ilmu entropreneur sejak TK, SD, SMP, SMA, sampai Universitas. Siapkan 1 persen dari APBN, dari Rp.1.000 Triliun, alokasikan untuk Training of Trainers (TOT). Jadi setahun punya Rp.10 triliun untuk program pelatihan. Diisi dulu dengan ilmu entropreneur, jangan belum paham ilmunya sudah digelontor modal usaha. Ciputra mengibaratkan, seorang belum mengenakan kaus sudah dipasangi sepatu bola dan main 2x45 menit. Ya, pasti lecet-lecet semua. Pendidikan pun harus benar, tidak bisa hanya sekedar pelatihan 3-7 hari atau seminggu, atau sebulan, terus diterjunkan dalam bisnis yang sangat keras. Pasti mereka akan kalah bersaing dan gulung tikar. Pendidikan yang betul, harus melalui proses yang benar.

Ilmu entropreneur tidak hanya sekedar diberi kuliah pagi sore. Tetapi harus diimbangi dengan praktik. Mereka juga harus diajar oleh orang-orang yang sudah punya pengalaman berbisnis. Dikombinasi antara teori dan praktik. Seperti anak belajar berenang. Dia harus memahami teori, garis-garis besarnya, lalu harus ikut "basah" menceburkan diri di kolam. Tidak cukup diberi teori, terus suruh loncat di kolam sendiri , pasti akan tenggelam. Sama juga dengan belajar sepeda roda dua. Lebih banyak harus dipraktikkan daripada teori-teori. Jadi pelatihan itu tujuannya to be entropreneur. Bukan sekedar to know entropreneurship. Ini ilmu, jadi harus pula dipelajari seperti halnya sebuah ilmu di bangku kuliah, bisa 3-4 tahun lamanya.

Sudah tiga tahun Ciputra aktif mengampanyekan entropreneur. Jika sebelumnya Indonesia berada di Abad Kebangkitan Bangsa, dengan Revolusi I bidang politik, maka saat ini ada Revolusi Entropreneur. Sekarang inilah saatnya Indonesia bangkit dengan entropreneur. Mengapa RRC cepat bangkit dari krisis? Sekitar 200 tahun atau dua abad silam, RRC itu sudah menguasai 34 persen dari GNP dunia. Di Indonesia, 200 tahun yang lalu, Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Cut Nyak Dien dsb ditangkap oleh Belanda, dan 50 persen pemuda-pemuda hebatnya tewas dibunuh Belanda. Setelah itu, Belanda menjajah negeri ini dengan eksploitasi sumber daya alam, dan memangkas akses-akses menuju pemuda-pemuda pintar.

Jakarta, 

Kamis, 08 April 2010

1 komentar: